Kasihan Orang Bali

Saya adalah salah satu dari sekian umat Hindu Bali yang selalu menjalakan adat yang sedari dulu sudah dibentuk disini. Sempat tinggal di Bogor, daerah minoritas yang pastinya berbeda dengan situasi di Bali, membuat saya takjub ketika pertama kali pindah ke Pulau yang satu ini. Meskipun saya masih kelas  4 SD saat pertama kali pindah, tapi perasaan bangga setiap melakukan suatu upacara adat selalu muncul :D. Bahkan sampai hari ini juga, saya melakukan persembahyangan di Pura Tanah Lot. Semua umat Hindu dari seluruh kabupaten menyempatkan diri datang ke tempat ini, meskipun tidak semuanya. Karena kebetulan di Tanah Lot sedang ada upacara besar – besaran. Tempat itu sangat ramai, karena tidak hanya umat hindu yang ingin bersembahyang yang datang, tapi para turis juga ikut mengambil posisi disana. Para turis takjub melihat budaya yang begitu mengakar disini. Saya pribadi bangga untuk yang kesekian kalinya :D. Tapi yang membuat saya prihatin, kadang orang – orang Bali yang memiliki budaya, keindahan geografis, dan masih banyak keunikan lainnya, tidak bisa menikmati hasil yang maksimal dari semua potensi ini. Mereka hanya mendapatkan sedikit dari apa yang bisa mereka dapatkan. Banyak lo orang Bali yang bekerja begitu keras dibidang pariwisata tapi sebenarnya apa yang mereka dapatkan mungkin jauh lebih sedikit dari keuntungan perusahaan mereka. Mereka hanya menjadi boneka dan dikendalikan oleh otak investor. Mungkin karena fokus pengembangan pemerintah Bali adalah bidang pariwisata, sehingga sektor satu ini terlihat begitu menjanjikan dan begitu menggiurkan bagi investor asing untuk berinvestasi. Investor ini membuka lahan pekerjaan baru bagi masyarakat Bali, tapi mereka juga membunuh lahan hijau pulau dewata dengan begitu mudahnya. Motivasi untuk membuka usaha sangat sedikit muncul dari masyarakat Bali. Dan mungkin bila tidak ada langkah yang tegas dari pemerintah dan masyarakat, orang Bali hanya akan menjadi ikan besar di aquarium yang kecil.