Perahu Kertas – one of my favorite book and song and film

Image

Maudy Ayunda – Perahu Kertas

Perahu kertasku kan melaju membawa surat cinta bagimu
Kata-kata yang sedikit gila, tapi ini adanya
Perahu kertas mengingatkanku betapa ajaibnya hidup ini
Mencari-cari tambatan hati, kau sahabatku sendiri

Hidupkan lagi mimpi-mimpi (cinta-cinta) cita-cita (cinta-cinta)
Yang lama ku pendam sendiri, berdua ku bisa percaya

Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu

Tiada lagi yang mampu berdiri
Halangi rasaku, cintaku padamu

Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu

Oh bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu

“listen perahu kertas song :)”

Falling in love with you …

Falling in love with you was like coming to a place I didn’t realize. I’d been missing all my life. You’re the only person I’ve ever known. Who acceptd me for who I am, right in this moment, faults and all, and isn’t waiting for me to become someone else.

taken from a picture in my room 🙂

Jatuh Cinta sama Ketua OSIS

Heyho! Halaman kali ini bukan tentang aku, tapi tentang temenku yang request untuk ditulis kisah hidupnya, tapi karena ini blogku, ditulisnya berdasarkan pengamatan saya ya :p Kalian boleh cek orang yang pernah pacaran sama ketua OSIS ini di twitter, orangnya GAMAKS (Gaul Maksimal) —> @AgungDhenita

Terus? Kenapa pacaran sama ketua OSIS itu sesuatu banget sehingga harus ditulis? Ya iyalaah, karena pacaran sama ketua OSIS itu ibaratnya pacaran sama yang terhormat Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Pacaran sama presiden. Apalagi pasangan yang saya jadikan sample ini sudah berhasil melalui prahara rumah tanpa tangga mereka selama lebih dari 3 tahun. Amazing.

Awalnya aku engga begitu inget, karena waktu kelas satu SMA dulu, aku masih belom gaul banget, temenannya belom merata. Jadi ga begitu mengikuti detail terjadinya kisah kasih antara mereka. Yang aku tahu, dulu mereka jadian tanggal 25 Desember 2008. Katanya narasumeber terpercaya, kejadian penembakan dan pengutaraan perasaannya terjadi di atas sepeda motor yang sedang berjalan. Herannya, kenapa harus disana? Kenapa harus dalam perjalanan? Apa si cowok, sebut saja gogon ini tidak tahu safety riding? Kejadian pengungkapan perasaan itu kan butuh kesiapan mental dan konsentrasi maksimal biar mantep dan tepat sasaran, bahaya kan kalo ditengah jalan ga fokus ke jalan, bisa nyemplung ke got. Tapi ternyata alam memberitahu bahwa, lokasi pengungkapan tidak mempengaruhi hasil dari misi tersebut. Buktinya, gogon diterima oleh deden.

Iya, gogon adalah ketua OSIS. Deden adalah ketua PKK. Ups, salah, deden adalah anggota kelas IPA 5. Mereka sekelas. Yang paling bikin saya salut sebenernya adalah: pertama, mereka sanggup menjalani hubungan pacaran padahal sekelas. Karena dari banyak pasangan yang aku temui, pacaran sekelas itu bukan hal yang mudah, ketemu tiap hari itu rentan bosen. Dalam sebuah kelas juga, segala hal bisa terjadi, mulai dari kita dan pacar disuru maju kedepan, mungkin disetiap mata pelajaran, sampai yang namanya bersaing untuk hal akademik. Sekali lagi, amazing.

Kedua, mereka hebat, karena gogon ini super duper sibuk. Kalo ga ada komunikasi yang mantep, pastinya bakalan susah buat mereka bertahan.

Ketiga, mereka ga bosen – bosen meskipun udah pacaran selama 3 tahun lebih, bahkan itu sekelas.

Keempat, mereka sekarang LDRan. Log Distance. Jarak Panjang. Jarak Jauh. Dan mereka masih bersatu.

Entah apa kiat – kiatnya. Mungkinkah kekuatan cinta sejati? Gatau ya. Sometimes aku iri karena mereka mampu menemani satu sama lain melewati segala macam cobaan hidup di umur segini. Mereka sama – sama mampu berbagi, ga cuman suka, tapi juga duka. Mereka sama – sama bisa menerima, ga hanya kebaikan, tapi juga segala macem perihal pasangan mereka. Dan mereka masih bersatu. Dan semoga akan terus bersatu. Entah apa pun yang bisa bikin mereka melalui semuanya, pasti adalah hal yang berharga banget. Bersyukurlah kalian yang langgeng banget sama pacar kalian. Semua orang punya cerita, tapi mungkin nggak seindah cerita kalian.

Aku berharap @AgungDhenita segera punya blog, sehingga dia bisa share, tips – tips menarik untuk mempertahankan hubungan. Bukannya kaya @Poconggg atau @RadityaDika yang kerjasama buat mutusin hubungan orang , menanamkan ke dalam pikiran anak muda kalo JOMBLO itu DOSA! What the ****************? Jomblo itu biasa aja kali. Ga usah dibikin ngenes gitu. Jomblo itu adalah sebuah masa dimana kita masih harus enjoy dan menambah jumlah teman. See? Enjoy aja hidup kalian, semangat 45 terus buat tante deden dalam setiap langkahnya. You’re gonna be a success wanita karir. 🙂

dedengogon

“What a wonderfull world”

“Putri yang Tertukar (Yusra dan Yumna)”

Kenapa Ilmu Komunikasi?

Judul postingan kali ini terinspirasi dari blognya gitagutawa yang cerita juga soal kenapa dia pilih bidang ekonomi buat kuliahnya sekarang di Universitas Birmingham. Kalian boleh cek, blognya keren, tulisannya asyik kok http://gitagut.blog.com/

Bener deh, masa – masa nyari kuliah ini mungkin adalah masa yang paling bikin galau bahkan melebihi masa galau saat putus cinta. Soalnya kalo dikasus saya sendiri, nyari jurusan yang aku tempuh kali ini itu punya perjalanan panjang.
Awalnya aku pingin jadi semacam diplomat untuk memenuhi desire jalan – jalan keliling dunia :p. Hahaha padahal hubungan internasional adalah salah satu jurusan yang paling butuh otak dan juga pengetahuan yang luasss bangeeett!  Tapi terus, tertarik untuk jadi psikolog. Karena menurut ramalan mama lorent, bintang aquarius cocok untuk jadi psikolog. Hahaha. Karena menarik, akhirnya coba untuk cari di Universitas Udayana. Daaaan TIDAK LULUS. Waktu itu aku bersyukur aja, mungkin emang belom jodoh, aku kuatin diri dengan bilang, kalo lulus di psikolog berarti kuliah musti pake rok ato celana kain terus dong? Ribet, jadi bersyukurlah ga lolos. T.T

Nyoba juga di Universitas swasta luar Bali. Waktu itu nyoba nyari psikologi Universitas Sanata Dharma. Lulus sih, tapi bayarnya mantep. Sebenernya bukan gabisa bayar, cuman aku pribadi sayang sama duit, mana universitasnya swasta lagi, apakabar sppnya? Mesti rajin nyari beasiswa kan. Akhirnya aku simpen aja surat lulusnya itu dan cari lagi yang lain.

Menyerah dengan psikologi, saya coba jurusan lain yang saya suka: Hubungan Internasional. Passing gradenya bahkan lebih gede daripada Psikologi. Hahaha. Tapi emang untuk nyari jurusan kuliah, aku sangat dibebaskan oleh orang tua. Mereka cuma kasi pendapat aja, tapi yang menentukan tetep aku. Akhirnya coba tes PMDK (jalur mandiri Univ Udayana) I dan memilih HI. Sambil menunggu hasil tes di UNUD, aku coba untuk tes juga di Universitas Brawijaya dengan jurusan yang sama: HI.

Mulai dari daftar, berangkat, tes, semuanya aku lakuin sendiri tanpa ditemenin sekalipun sama orang tua. Asyik loh, kita bisa tentuin dan buktiin sebenernya mampu ngga sih hidup dan survival sendiri? Dan ternyata BISA 🙂 Ribetnya nyari hotel, nyari kamar, karena waktu itu semua hotel di kawasan Brawijaya udah penuh sama anak – anak yang mau tes, apalagi ada dari mereka yang bawa keluarga. Sebenernya udah booking kamar sih, cuman karena kesalahan teknis, kita dapat kamar single, sedangkan waktu itu aku berangkat berempat sama kakak kelas yang pingin tes lagi. Mereka yang lebih gede ternyata ga ngerti dan gabisa ngurusnya, terus aku harus minta tolong sama siapa? Ga ada. Ada sih kenalan tapi ribet untuk nelpon dia lagi, bukan kenalan, lebih tepatnya adalah mantan gebetan :|. Udahlah, akhirnya setelah kongkalikong akhirnya kita dapet kamar baru yang lebih gede, dengan tempat tidur yang sangat cukup untuk 4 orang, dengan harga 160ribu per malam. :)_

Malamnya belajar sedikit, karena aku sampai detik itu masih belom dapet kepastian mau lanjut sekolah dimana, aku merasa bersalah sama mama dan papa hahaha. Sedangkan temen – temen udah pada dapet. Emang keberuntungan itu amat sangat main dalam pencarian kampus sejati ini. Rasanya terombang – ambing ga jelas, kaya naik kapal roro nyebrang di Samudra Hindia. Mual.

Besoknya ujian, aku udah cari ruangan kemarennya, jadi ga ada tuh acara tersesat. 🙂 Sebelum tes kenalan lah dengan anak – anak seruangan, dan rata – rata nyari HI -____-

Panik awalnya, tapi terus aku bilang sama diriku sendiri, “udah gal, jalani aja, semua ini kita (hati kecilku dan aku) lakukan demi our great parents ever”. Cieeeee. Menguras emosi banget. Ujian demi orang tua. Berasa bertarung lawan akatsuki.

Setelah tes, waktunya untuk tunggu pengumuman. Dan hasilnyaa:

Ga berani liat.

Takut.

Ngintip bentar.

“ Ni Luh Putu Galuh Prabasari diterima untuk S1 Hubungan Internasional Universitas Brawijaya”

*nari saman*

Aku langsung telpon mama, dan bilang lulus sambil berkaca – kaca. *cieilaaah

Tapi ternyata dapet sekolah juga tidak lantas menyelesaikan masalah. Dapet sekolah di luar bali, malah bikin keluarga kecil yang ga rela aku keluar. 😦 Keluarga besar, sebagian dukung banget, sebagian nyuruh cari di Bali. Karena pertimbangan – pertimbangan pribadi keluarga kecilku, aku pikir bener juga. Aku sekolah keluar dampaknya itu buat de bagus dan de galih. Kata mama, mereka masih butuh aku. *padahal kalo nonton teve masih rebutan remot -___-

Ga ngerti yah? Ya pokoknya ada suatu masalah lah yang sempet terjadi di keluargaku terkait pamanku, mama gamau adekku yang paling kecil ini begitu juga. Rahasia yaa. 🙂

Oh ya, HI yang di UNUD = TIDAK LULUS *abaikan, ga usah dibahas

Sampai akhirnya, memutuskan untuk cari Ilmu Komunikasi. Nah, kalo yang ini atas pertimbangan Om ku yang baik dan budiman. Om Arsana lah yang membuka pikiranku untuk jurusan yang satu ini. Dan lolos. 🙂 waktu itu tesnya barengan sama Yoni.

Padahal sudah ngurus macem – macem di Brawijaya, sudah bayar jas almamater, tinggal ngambil doang, udah daftar buat ospek, udah nyari kos, udah kenalan sama temen baru, udah dapet info buat OSPEK. Tapi pas berangkat ke malang untuk daftar lagi dan bayar duit 15 juta nya keesokan harinya (dimana itu adalah hari terkahir), pengumuman ilmu komunikasi UNUDnya keluar, dan bikin aku turun dari travel (semacam minibus) SAAT ITU JUGA. Mama nelpon dan bilang aku lolos yang di Bali, aku turun minbus, dan say goodbye untuk Brawijaya. :’)

Menyesal? Enggak sih, aku mikirnya aku bisa kok buktiin meskipun kuliahnya di Bali, tapi aku bisa jadi sesuatu yang berguna dan ngebanggain semua orang yang aku sayang. Dan ternyata meskipun akses untuk keluar negeri lebih sedikit di UNUD, tapi gapapa, tuhan adalah pembuat skenario terkeren yang pernah aku tahu. Dia udah siapin rencana sepertinya untukku. Malah sekarang aku sangat amat bersyukur kuliah di Bali. Hidupku lengkap. Jurusan yang aku pilih sangat amat tepat.
Pesen buat adek – adek yang lagi pada galau cari sekolah, kalo kalian ga dapet jurusan yang kalian inginkan, jangan patah semangat, cari terus sampe dapet, ga lolos tes itu bukan akhir dari hidup kok. Apalagi jaman sekarang orang nyari kuliah itu banyak yang pake duit belakang. Jadi belom tentu kamu ga lulus itu karena kamu bego ato ga pinter. Keep on searching!

Buyung

Orang ini harus diceritain lah. Karena meskipun sebentar dia juga pernah singgah dihidupku dan bikin manis hariku. Setiap liat permen ‘KISS’ aku pasti bakal inget dia. Permen jadi sesuatu yang berarti dalam hubunganku sama dia. (duh, jangan sampe dia baca deh, malu!) Kita nggak pacaran. Tapi, hampirlah ya, (benerkan bay?). Orang ini adalah orang yang berani bilang perasaannya ke aku dengan SANGAT JELAS. Pemberani harus dikenang.

Secara teknis dia adalah adik kelasku hahahaha. Tapi kalo dilihat tahun lahir kita sebaya kok, tapi tetep, gue yang lebih tua. T.T Februari sama bulan agustus kalo ga salah. Ah, ga peduli.

Hmm, lupa ding awal – awalnya gimana. Pokoknya kita smsan waktu itu. Biasalaah. Tapi ada beberapa hal dari dia yang aku inget. Cokelat! Dia kasi aku cokelat di sekolah, di ruang OSIS. Ga inget gimana mukaku waktu itu, tapi perasaannya seneng banget. BANGEEEETTT!! Haha senyum – senyumlah saya sendiri. Padahal udah aku taroh di tas dibagian samping, ada kantong jaring nya, jadi keliatan kali ya dari luar. Nah, karena keliatan, itu cokelat dimakan duluan sama temenku 😦 . Padahal udah mati – matian aku bilang jangan dimakan, tapi mereka lagi laper banget, jadi dengan sangat beringas mereka rebut itu dari genggamanku dan makan cokelat itu dengan lahapnya tepat didepan kedua mataku dan bilang, “entar gua ganti ko!”. Aku ga berani bilang itu cokelat dari seseorang, takut malah ditanyain macem – macem. Haaaaahhhh! :\

Waktu study banding aku kok akhirnya bisa tidur dibahunya dia? Itu yang aku ga ngerti, waktu itu aku masih belom suka sama dia, jadi biasa aja. Cuman lucu aja, dia duduk disebelahku, kita tidur, dan besok paginya kepalaku udah ada di bahunya *pantes nyenyak banget gua tidur. Kayaknya kok sinetron banget hahahaha

Satu hal lagi yang aku ingat dari dia adalah, momen di ruang OSIS. Oh ya, buyung ini anak OSIS juga sama kaya aku. Jadi hari itu adalah hari dimana dia bilang dia harus ngomong sama aku. Hari pasca dia bilang perasaannya ke aku. Baru semalem aku tau perasaannya dan seneng banget. Besoknya perasaan seneng udah harus dieksekusi mati. 😐

dan ruang eksekusinya adalah di ruang OSIS.

Karena efek canggung, kita gatau harus mulai darimana. Akhirnya dia bilang “bersihin ruang OSIS yok!”. Aku setuju, kebetulan ruangan itu ancur banget karena kita habis ada acara gede. Surat, kertas, dan segala macem benda ada disana. Berdua kita rapiin itu ruangan sampe rapi, dengan bahagianya, sambil banyak bercanda dan melupakan inti permasalahan, APA YANG MAU DIBICARAKAN BUYUNG? Setelah selesai bersih – bersih, aku duduk di sofa, dan dia ambil kursi pelastik. Dia duduk diarah jam 2 ku. Pertamanya dia bingung mau mulai darimana, dia liat keluar jendela, dia nunduk, liat keluar jendela, nunduk, ngupil. Eh, serius nih! Ga pake ngupil yah. Matanya udah kaya merasa bersalah banget, sedikit berkaca – kaca, tapi karena dia cowok, dia tetep jaga wibawa. Kita berdua doang tuh disana. Terus dia bilang, “maaf gal, kita gabisa lanjutin hubungan ini kayak yang semestinya (pacaran)” JEDAAAAARRRRRR!!!!!! Petir nyamber motor!

Belom mulai udah gabisa lanjut. -______-

Meskipun kita sama – sama suka, mungkin dia ga siap untuk jalanin hubungan pacaran sama aku. Karena (mungkin lagi) aku adalah seniornya disekolah. Dia pegang tanganku. Eh, pegang ga ya? Lupa. Hehe beuh pokoknya aku cuman diem aja, dan dengerin dia sampe berhasil menyelesaikan omongannya. Lamaaaaaa bangeeeeeettt kita diem diruangan itu. Diem lagi. Ngomong lagi. Diem lamaa. Ngomong lagi. Aku nanggepinnya kalo ga salah: Oke, gapapa bay. Kamu ga harus jalanin ini sama aku. Kalo kamu ga bisa, yaudah jangan. Aku gapapa (ASLI, BOONG BANGET NIH!). Kita tetep sahabatan aja 🙂 .

*Oh ya, dia pegang tanganku. Baru inget!*

Aku sendiri ngulur waktu biar bisa berduaan kaya gini sama dia untuk yang terakhir kalinya, tapi akhirnya aku harus pulanglah. Gaboleh lama – lama terikat dengan kondisi kaya gini, bisa nangis ditempat gua.

Dijalan pulang, baru sedihnya keluar. Didepan buyung, aku sok tegar banget. Dijalan, itu airmata udah gabisa ditahan lagi dah. Nangis dan sedih dan kecewa LAGI.

Sekarang dia udah punya pacar yang umurnya lebih kecil dari dia. Dan aku harap mereka bahagia. Karena buyung ini orangnya baik banget man T.T. Metal. Lucu. Pendengar yang baik. Gembul. 😀

Terima kasih bul, udah hadir di hidupku meskipun  akhirnya nyakitin tapi kamu baik banget lah overall.

Salam manis  buat gembul, selalu 🙂

Capung dan Kodok

“I wanna touch and hug you forever, but you are still in my dream”

Hari ini aku baru aja baca sebuah blog yang isinya full tentang satu orang. Jadi ini ceritanya adalah blognya temennya temenku. Enggak kenal sih sama temennya temenku ini, tapi menarik untuk dibaca terus karena ini menyangkut temenku. Mereka awalnya sahabatan kemudian pacaran kemudian kembali jadi sahabat meskipun sepertinya mereka agak enggak ikhlas. Sebut saja temennya temenku ini capung, dan temenku adalah kodok. *binatang itu aja yang terlintas di otakku

Capung dan kodok adalah sahabat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama (berdasarkan tulisan diblog capung). Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk mengubah status sahabat menjadi pacaran. They are happy together. Cukup lama mereka pacaran, tapi ternyata mereka harus mengakhiri hubungan mereka. Si kodok yang mengakhiri hubungan, sedangkan si capung nerima aja meskipun dalam hatinya dia bener – bener ngga rela. Aku sendiri gatau apa masalah atau pun hambatan hubungan mereka, intinya mereka mesti putus. Eh bukan putus, tapi kembali jadi sahabat *elaaaaahh sama aja.

Yang bikin aku kasihan adalah si capung. Aku gatau ya gimana perasaanya si kodok, tapi si capung asli desperate tingkat dewa. Kecewa, sakit hati, putus asa, menderita karena hubungan mereka ga akan pernah sama seperti dulu. Capung bener – bener pengin menghentikan waktu dan membiarkan masa – masa indahnya sama kodok bisa keulang lagi. Capung rindu pelukan dan kebersamaannya sama kodok. Sepertinnya kodok adalah pendengar yang baik, sampe – sampe capung kehilangan tempat berbagi cerita. Capung mungkin udah menjadikan kodok sebagai pria terbaik yang pernah dia miliki. Intinya capung sangat menyayangi kodok.

Kondisi ini diperparah lagi dengan perginya kodok keluar kota. Jadi, capung dan kodok tidak hidup lagi disatu daerah. Mereka terpisah jarak yang jauh. Antar pulau. Sesaat sebelum kodok pergi, capung nulis lagi di blognya. Capung bilang dia sebenernya bisa untuk kembali sahabatan meskipun butuh waktu. Tapi capung ngga siap kalo kodok harus pergi secepat ini. Capung pingin punya kekuasaan untuk memperlambat waktu, sehingga kodok bisa tetep ada di pulau itu. Jadi, kalau waktu bisa dia perlambat, meskipun mereka ga pacaran lagi, tapi paling enggak capung masih tetep bisa ngeliat kodok. *hiks :’)

Sepertinya dalam kasus ini, sampai detik ini capung masih sangat sayang sama kodok. Aku gatau kodok gimana, meskipun kodok adalah temenku, tapi dia ga cerita banyak soal capung. Apapun itu, sebenernya sih aku pribadi berharap capung bisa nemuin yang lebih baik untuk hidupnya dan ga lama – lama terikat dengan si kodok. Kuncinya sih: penerimaan. Terima bahwa si kodok memutuskan untuk ambil keputusan itu juga dengan pemikiran yang matang dan ada maksudnya. Tapi juga, kalo kalian berdua masih bisa bersatu, bersatulah, hiduplah dengan bahagia, jangan siksa diri kalian. Aku yang ga tahan ngebayanginnya. Masih cinta, tapi gabisa bersatu. L Atau paling enggak, terimalah. Apapun yang terjadi sekarang ini pasti punya maksud yang baik untuk kita.

Capung, kamu jangan takut ga akan dapet orang yang sebaik kodok lagi. Dunia ini luas. Kesempatan itu banyak. Ikhlasin kodok buat yang lain kalo emang ini adalah yang terbaik. Pasti butuh waktu, tapi kamu pasti bisa. Kodok akan selalu anggap capung sebagai seseorang yang berharga di hidupnya. PASTI! Kamu mungkin gatau, tapi kodok selalu merindukanmu lebih dari apapun. Bahkan di awal –awal hidup di pulau yang baru ini, si kodok pasti masih kebayang sama kamu. Syukuri kamu sudah pernah jadi orang spesial dihidupnya, syukuri kamu bisa bahagiain dia walaupun sebentar. J

Capung orang yang kuat. Meskipun kita ga kenal, tapi aku pernah rasain kekecewaan yang capung rasain. Dibawa terbang, kemudian dijatohin ke bumi. Tulang lepas dari kulit rasanya. Tapi di kasus ini aku yakin, si kodok pasti punya alasan. Stop blaming, capung. Menyalahkan apapun ga ada gunanya. Terima. Dan lanjutkan hidupmu ya J

NB: Tulisan ini untuk capung. Semoga kamu bertemu teman – teman yang bisa membantumu melewati ini semua. Friendship are real. Dan jangan kapok untuk pacaran sama sahabat, karena kita, gabisa milih orang mana yang ingin dan tidak ingin kita cintai. Cinta bisa tumbuh kapan saja, dimana saja, pada siapa saja. Nikmatilah hidupmu capung J Bahagiakan orang lain.

Adul

Gambar

Heyho! Halaman kali ini saya mau konfirmasi soal perasaan saya ke seseorang beberapa waktu lalu. Kisah lama sih, cuman saya pingin share aja perasaan yang terkungkung (bahasa apalah ini) dalam dada.
Dulu saya pernah deket sama seseorang yang, langsung aja ya, udah punya pacar! Awalnya sih dia curhat tentang pacarnya, tentang hidupnya, sampai akhirnya mulai kasi perhatian yang nggak sewajarnya temen biasa. Sebut saja dia ADUL. Adul punya pacar yang, astaganaga, menurut ceritanya dia sih, bikin tertekan dan tersiksa banget. Saya juga tau kok pacarnya dia siapa, karena emang satu sekolahan sama saya dan dia adalah adik kelas. Adul sendiri temen sekelas saya, dan duduk deketan sama saya.

Setiap hari dia selalu tanya kabar, aktifitas, dan semua tetek bengek kehidupan saya, yang begonya saya ladenin juga. Padahal saya tau, adul ini orangnya, dari kabar burung adalah playboy kelas badak, karena temen sekelasku juga yang pernah jadi pacarnya, ngerasa ilfeel banget sama manusia ini, sepertinya agak badung a.k.a bad boy. Tapi kenyataannya, saya malah tertarik. -.-“

Apa yang bikin tertarik? Gatau ya, pokoknya waktu itu cuma dia yang ada untuk berbagi perasaan dan aktivitas sehari hari. Terus, eh kok dia mulai bilang kata yang seharusnya ga dibilang. Kata apa? Ya pokoknya menunjukan perasaan sukanya sama saya. Yang begonya lagi, saya biarin aja kaya gitu tanpa nanya konfirmasi tentang ‘saya ini apa buat dia?’ sama dia, pacarkah?, selingkuhan kah? Teman? Teman dekat? 

Adul sering banget main kerumah, karena emang kita nyambung banget kalo ngobrol, film, teknologi, musik, semuanyaa. Mungkin itu juga yang bikin saya bertahan sama segala ketidakjelasan hubungan yang waktu itu saya rasa: menyenangkan. Karena meskipun statusnya burem banget, tapi dari dia saya dapet banyak hal yang bikin saya seneng, simple kan?

Suatu malam, dia bawain saya es krim. Cuma ngasi itu doang, habis itu pergi. Dia juga ngasi cokelat pas valentine, meskipun dalam hati saya juga tau kalo dia ngasi cokelat yang lebih gede buat pacarnya, karena saya liat mereka lagi berdua milih cokelat di toko cokelat T.T *abaikan. Dia anter saya siaran. Dia ajak kakaknya ke tempat siaran, kenalan. Dia sering main ke radio, sekedar untuk ketemu saya (kali). Saya main kerumahnya, dan saya dikira pacarnya. Saya sering main sama adiknya. Saya diterima dikeluarganya. Dan hal – hal tadi bikin saya optimis kalo saya berarti dan bisa punya pacar *aposeehh.

Adul juga pernah ajak saya jalan – jalan berdua. Meskipun harusnya saya juga tahu, kalau kita jalan – jalan dan hanya BERDUA saja, itu bukan berarti dia menyerahkan seluruh hatinya sama kita. Its a big NO! Tapi, saya yang waktu itu seneng banget, lupa buat injek daratan, dan berpikir logis. Dimana ada teori yang bilang, pacar orang adalah haram. Dia aja bisa giniin pacarnya, apalagi kalau nanti kita jadi pacarnya? Tapi itu semua saya abiakan, karena saya ngerasa have fun dengan ini.

Sampai suatu hari saya lihat kalau ternyata dia masih sangat rajin untuk sms pacar yang sebenarnya. Saya sadar dia masih ada rasa buat dia toh? Kan emang mereka belom putus kok. Meskipun adul selalu bilang senang bisa jalan sama saya, seneng bisa ngobrol sama saya, pingin habisin waktu bareng lagi, tapi saya jadi ngerasa kata – kata tadi dusta semua, omong kosong.

Tapi entah kenapa juga, saya berat banget untuk hentiin semua komunikasi sama dia, kalo istilah kerennya “akhiri semua dan pergi jauh”. Mungkin karena saya, waktu itu, ngerasa takut. Takut kehilangan semua perhatian dan si adul sendiri. Saya takut, kalo ini dihentikan, saya ga akan bisa dapet hal manis kaya yang saya pernah dapet dari dia. Saya takut kalo besok saya ga bisa nemuin orang lain yang suka sama saya lagi. Adul suka sama saya, padahal pacarnya sendiri anak cheers, pokoknya manteb deh, meskipun matanya agak gede seperti balon. Pacar adul cantik, tapi dia suka sama saya. Tapi ternyata dia hanya berhenti pada suka. Ga ada kejelasan lagi. Stuck disana aja.
Saya capek. Capek harus pura – pura ga ada apa – apa di antara saya dan adul, di depan temen – temen yang lain. Capek kalo harus liat pacarnya dia yang KADANG nyapa adul. Sakit hati akut. Capek di gantung. Capeklah intinya.

Eh, suatu hari saya coba tanya tentang semua ini sama dia, meskipun ga frotal, tapi dia ngerti. Dan dia bilang kalo dia ga pantes buat saya. Saya terlalu baik buat dia, sedangkan adul ngerasa dirinya terlalu jahat buat saya. Adul bilang untuk stop sms an. Adul ga pingin saya semakin sakit dan terluka. Adul tau adul salah, dan dia minta maaf. Saya bilang: Okedeh, semoga kamu bisa bahagia sama siapapun nanti, rukun sama keluargamu, damai sejahtera. Saya pun pergi.

Semua yang adul bilang itu bikin saya ga ngerti. Ga masuk ke otak. Terus buat apalah semua selama ini? Itu toh Cuma jadi pemanis aja kaya di sinetron di tivi. Sangat sinetron dan emang manis. Tapi ternyata saya sadar lagi. Yang saya butuhkan bukan hanya manis, tapi juga pahit. Saya juga pingin dia ada di saat saya sedang jatuh dan nggak baik – baik saja. Selama ini, saya selalu dengar apa masalahnya (adul emang punya masalah sama keluarganya) dia aja. Sedangkan saya jarang share kejelekan hari – hari saya sama dia. Saya selalu pingin tunjukin sama dia kalau hidup itu indah, dan hal – hal panas yang kadang bikin hati bisa gosong itu, ga harus kita pikir terus. Saya pingin dia tahu, kalo saya ADA untuk dia. Apapun keadaannya. Tapi yang baru saya sadari, selama ini adul ADA tapi setengah – setengah. Adul ADA tapi TAK ADA. Adul ADA tapi SAMA SEKALI TIDAK NYATA.

Adul sekarang sudah putus sama pacar SMA nya. Setelah putus, dia bukan pilih saya, tapi pilih orang lain. Meskipun adul sudah punya pacar baru, saya masih gini – gini aja, tapi saya bahagia kok sama temen dan keluarga saya, cuma statusnya masih single aja. Meskipun adul punya pacar baru, dia masih sering sms saya untuk tanya keadaan saya. Kadang saya jawab antusias, kadang sekenanya aja.

Kadang saya pingin terima aja orang yang suka sama saya, meskipun perasaan saya biasa aja sama dia, untuk buktiin sama cowok – cowok yang sudah lewat di kehidupanku (termasuk adul), kalo saya bisa dapet yang lebih baik. Tapi itu, bukan tindakan yang bijak kan? Saya bakal dapet hal palsu lagi, kebahagiaan palsu, kebanggaan palsu.

Nah, itu dia cerita singkatku tentang adul. Kenapa saya tulis? Meskipun sekarang adul sudah tidak sepenting dulu dihati saya, tapi dia pernah hadir di hidup saya, dan itu adalah bagian dari sejarah. J

Sekarang saya mau enjoy hidup, dan tetep, kalo ketemu sama adul, saya akan sapa dia, seolah tidak pernah ada sesuatu diantara kita, dulu. 😀